Ketua KKN 37, Ilham, menegaskan bahwa kemerdekaan tidak semestinya dimaknai sebatas perayaan seremonial. Menurutnya, momentum kemerdekaan perlu menjadi ruang untuk mendidik dan mengembangkan potensi generasi muda.
“Semarak kemerdekaan bukan hanya ajang hura-hura. Kami ingin anak-anak tidak hanya bersenang-senang, tetapi juga belajar, berani tampil, mencintai Al-Qur’an, dan memiliki karakter yang baik,” ujarnya.
Menurut Ilham, tantangan generasi muda saat ini telah berubah. Jika dahulu para pejuang menghadapi penjajahan secara langsung, anak-anak masa kini menghadapi tantangan berupa derasnya arus informasi, media sosial, teknologi, dan penggunaan gadget. Karena itu, mereka perlu mendapatkan ruang untuk belajar, berinteraksi, berkompetisi, dan mengembangkan diri melalui kegiatan positif.
Pemilihan lomba bernuansa keagamaan juga menjadi upaya mengenalkan kembali semangat perjuangan ulama, kiai, dan santri dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Melalui Pildacil, anak-anak dilatih berbicara dan menyampaikan pesan kebaikan; lomba adzan menjadi sarana menumbuhkan kecintaan terhadap syiar Islam; sementara hafalan Juz 30 mendorong kedekatan anak dengan Al-Qur’an sejak dini.
“Dulu para kiai dan santri ikut berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Sekarang perjuangan kita adalah mengisi kemerdekaan dengan mempersiapkan generasi yang berilmu, berakhlak, cinta agama, dan cinta tanah air,” kata Ilham.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa melalui KKN dan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. KKN 37 berupaya membangun kolaborasi dengan masyarakat Desa Cimanuk sekaligus menghadirkan pengalaman edukatif bagi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
Bagi KKN 37, kemerdekaan yang sesungguhnya tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, berakhlak, produktif, dan bijak dalam menggunakan teknologi.
Melalui Semarak Lomba Kemerdekaan, KKN 37 UIN SMH Banten ingin menegaskan bahwa kemerdekaan bukan sekadar untuk dirayakan, tetapi diisi dengan pendidikan, prestasi, akhlak, dan kebermanfaatan. Kini, perjuangan generasi muda adalah belajar, berkarya, berakhlak, dan turut membangun Indonesia.