TpCpTSzlTSApTfC8TUOiGfC8BY==
Light Dark
Bashirah: Saat Mata Terbuka, Tapi Hati Justru Kehilangan Arah

Bashirah: Saat Mata Terbuka, Tapi Hati Justru Kehilangan Arah

Daftar Isi
×

 


GENREPUBLIKA.COM | Di zaman ketika semua orang berlomba mengejar sesuatu, pernah nggak kita berhenti sebentar dan bertanya: sebenarnya kita sedang mengejar apa?

Kita sibuk mengejar karier, uang, jabatan, followers, validasi, sampai pengakuan dari orang lain. Hari-hari dipenuhi target. Bangun pagi memikirkan pekerjaan, malam masih memikirkan pencapaian. Kita takut tertinggal dari orang lain, takut dianggap gagal, bahkan takut hidup kita terlihat biasa saja.

Tapi di tengah semua kesibukan itu, ada satu hal yang kadang justru terlupakan: arah hidup.

Dalam Islam, ada konsep yang menarik untuk memahami persoalan ini, yaitu bashirah. Secara sederhana, bashirah bisa dipahami sebagai “mata hati”—kemampuan untuk melihat sesuatu bukan cuma dari apa yang tampak di depan mata, tetapi juga memahami makna dan tujuan di baliknya.

Mata bisa melihat kesuksesan. Tetapi bashirah membantu kita bertanya: kesuksesan ini sebenarnya membawa kita ke mana?

Ketika Kita Terlalu Sibuk Mengejar Dunia

Ibnu Athaillah as-Sakandari pernah menyampaikan sebuah hikmah dalam Al-Hikam:

"Kesungguhanmu dalam mencari sesuatu yang telah dijamin untukmu, dan kelalaianmu terhadap sesuatu yang dituntut darimu, merupakan tanda padamnya bashirah."

Kalimat ini terasa cukup relate dengan kehidupan hari ini.

Kita mati-matian mengejar rezeki, tetapi terkadang justru mengorbankan salat. Kita ingin punya karier bagus, tetapi hubungan dengan keluarga semakin jauh. Kita mengejar popularitas, tetapi kehilangan ketenangan. Kita sibuk membangun citra di depan manusia, sementara hubungan dengan Allah perlahan tidak lagi menjadi prioritas.

Bukan berarti bekerja, mencari uang, mengejar pendidikan, atau membangun karier itu salah. Justru semua itu bagian dari ikhtiar.

Masalahnya muncul ketika sarana berubah menjadi tujuan.

Uang seharusnya menjadi alat untuk menjalani kehidupan, bukan menjadi alasan kita kehilangan kehidupan. Jabatan seharusnya menjadi amanah, bukan identitas utama. Popularitas seharusnya bukan ukuran nilai diri.

Di sinilah bashirah dibutuhkan.

Mata Bisa Melihat, Tapi Hati Bisa Salah Arah

Al-Qur'an mengingatkan bahwa kebutaan yang paling berbahaya bukan selalu tentang mata yang tidak bisa melihat.

Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 46 bahwa yang bisa menjadi buta bukanlah mata, melainkan hati yang berada di dalam dada.

Artinya, seseorang bisa saja sangat cerdas, punya pendidikan tinggi, mampu membaca situasi, memahami teknologi, bahkan sangat sukses secara finansial—tetapi tetap kehilangan kemampuan untuk melihat makna kehidupan.

Kita mungkin bisa melihat peluang bisnis, tetapi tidak melihat bahwa rezeki adalah amanah.

Kita bisa melihat kesempatan mendapatkan jabatan, tetapi tidak melihat bahwa jabatan membawa tanggung jawab.

Kita bisa melihat popularitas sebagai kesuksesan, tetapi tidak melihat bahwa nilai diri manusia tidak ditentukan oleh jumlah orang yang mengenalnya.

Inilah yang disebut krisis bashirah.

Bukan karena kita tidak punya penglihatan, tetapi karena kita kehilangan perspektif.

Rezeki Perlu Dikejar, Tapi Jangan Sampai Menjadi Tuhan Baru

Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk bermalas-malasan.

Bekerja tetap penting. Belajar tetap penting. Membangun bisnis tetap penting. Mengejar prestasi juga bukan sesuatu yang harus ditinggalkan.

Namun, ada satu prinsip yang perlu dijaga: kita berusaha sekuat tenaga, tetapi tidak menggantungkan seluruh hati kepada hasil usaha.

Al-Qur'an menjelaskan bahwa Allah menjamin rezeki makhluk-Nya. QS. Al-'Ankabut ayat 60 dan QS. Hud ayat 6 menegaskan hal tersebut. Pada saat yang sama, jaminan rezeki bukan berarti manusia berhenti berusaha.

Jadi, bekerja keras tetap dilakukan.

Tetapi hati tetap sadar bahwa hasil akhirnya bukan sepenuhnya berada di tangan kita.

Kita punya kewajiban untuk berusaha. Allah punya kuasa atas hasilnya.

Perbedaan kecil ini ternyata bisa mengubah cara seseorang menjalani hidup.

Jadi, Apa Sebenarnya Tujuan Hidup Kita?

Kalau semua yang kita kejar akhirnya selesai, lalu apa yang tersisa?

Jabatan bisa berakhir.

Uang bisa habis.

Popularitas bisa hilang.

Followers bisa turun.

Tren akan berganti.

Bahkan manusia yang hari ini memuji kita bisa saja besok lupa dengan nama kita.

Karena itu, seorang mukmin membutuhkan orientasi hidup yang lebih jauh daripada sekadar pencapaian dunia.

Dalam perspektif bashirah, dunia adalah perjalanan, bukan tujuan akhir.

Kita boleh punya ambisi. Boleh punya mimpi besar. Boleh ingin sukses.

Tetapi jangan sampai ambisi membuat kita lupa siapa yang memberi kehidupan.

Jangan sampai pekerjaan membuat kita lupa salat.

Jangan sampai mengejar uang membuat kita kehilangan keluarga.

Jangan sampai mencari validasi manusia membuat kita lupa bahwa yang paling penting adalah keridaan Allah.

Menjadi Gen Z Bukan Alasan untuk Kehilangan Arah

Generasi hari ini hidup dalam dunia yang serba cepat.

Setiap hari kita melihat pencapaian orang lain melalui media sosial. Ada yang pamer bisnis, ada yang wisuda, ada yang traveling, ada yang membeli rumah, ada yang menikah, ada yang mendapatkan jabatan.

Tanpa sadar, kita kemudian membandingkan hidup sendiri dengan potongan kehidupan orang lain.

"Kok dia sudah sampai sana, sementara aku masih di sini?"

Pertanyaan seperti itu bisa membuat hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai.

Padahal setiap manusia punya jalan masing-masing.

Bashirah mengajarkan kita untuk kembali melihat kehidupan dengan perspektif yang lebih jernih: bukan sekadar seberapa cepat kita sampai, tetapi ke mana kita sebenarnya sedang berjalan.

Karena tidak semua yang terlihat sebagai kemajuan benar-benar membawa kita lebih dekat kepada kebaikan.

Hidup Bukan Tentang Punya Segalanya

Pada akhirnya, mungkin ukuran keberhasilan seorang mukmin bukan tentang seberapa banyak yang berhasil ia kumpulkan.

Bukan berapa banyak uangnya.

Bukan seberapa tinggi jabatannya.

Bukan berapa banyak orang yang mengenalnya.

Melainkan seberapa baik ia menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.

Bashirah membuat seseorang mampu membedakan antara tujuan dan sarana.

Rezeki adalah sarana.

Karier adalah sarana.

Ilmu adalah sarana.

Popularitas adalah sarana.

Sedangkan keridaan Allah adalah tujuan.

Karena itu, kita tidak harus meninggalkan dunia untuk menjadi dekat dengan Allah. Kita hanya perlu memastikan bahwa dunia tidak mengambil alih hati kita.

Bekerjalah dengan serius.

Belajarlah dengan sungguh-sungguh.

Bangunlah masa depan.

Kejar mimpi.

Tetapi jangan lupa pulang kepada Allah.

Sebab bisa jadi masalah terbesar dalam hidup bukan karena kita tidak tahu bagaimana cara mendapatkan apa yang kita inginkan.

Masalahnya adalah kita terlalu sibuk mendapatkan apa yang kita inginkan, sampai lupa apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Dan mungkin, di situlah bashirah menjadi penting: membuka mata hati agar kita tidak hanya tahu cara menjalani hidup, tetapi juga tahu untuk apa hidup ini dijalani.