TpCpTSzlTSApTfC8TUOiGfC8BY==
Light Dark
Bukan Cari Musuh, Bukan Pilih Kubu: Ini Alasan Sebenarnya Presiden Prabowo Hadir di KTT BRICS

Bukan Cari Musuh, Bukan Pilih Kubu: Ini Alasan Sebenarnya Presiden Prabowo Hadir di KTT BRICS

Daftar Isi
×


GENREPUBLIKA.COM | Wajar kalau sebagian dari kita sempat was-was begitu mendengar Presiden Prabowo hadir di forum BRICS. Di tengah dunia yang sedang panas oleh rivalitas negara-negara besar, muncul pertanyaan spontan di kepala banyak orang: "Jangan-jangan kita lagi diseret masuk blok baru? Nanti ekonomi kita ikut kena getahnya, harga-harga naik lagi?"

Kekhawatiran itu manusiawi. Tapi kalau kita simak lebih jauh apa yang sebenarnya disampaikan Presiden di forum tersebut, arahnya justru sebaliknya.

Menegaskan Sikap, Bukan Memilih Kubu

Di hadapan para pemimpin negara-negara besar, Presiden Prabowo secara tegas menyampaikan bahwa Indonesia menolak untuk didikte atau disetir oleh kekuatan mana pun baik dari poros Timur maupun Barat. Pesannya jelas: Indonesia adalah bangsa besar yang bebas menjalin pertemanan dan hubungan dagang dengan siapa saja, tanpa harus tunduk pada tekanan salah satu pihak.

Kehadiran di BRICS, dengan kata lain, bukan soal "ganti kubu", melainkan soal memperluas pasar dan menambah kawan dagang. Inilah wajah kepemimpinan yang mengusung prinsip "Banyak Teman, Banyak Rezeki" diplomasi yang merangkul, terbuka, dan berorientasi pada satu tujuan konkret: keuntungan ekonomi untuk rakyat.

Kemandirian Dimulai dari Piring Makan

Yang menarik, Presiden juga mengingatkan bahwa keberanian bersikap di panggung dunia tidak ada artinya kalau fondasi di dalam negeri masih rapuh. Beliau menegaskan bahwa kemandirian bangsa baru benar-benar terwujud jika ketahanan pangan, energi, dan pendidikan di dalam negeri sudah kuat lebih dulu.

Pesan ini sederhana tapi dalam: percuma garang di luar negeri kalau rakyat di rumah masih kesulitan makan. Karena itu, fokus pemerintah tetap dan akan terus diarahkan pada kedaulatan pangan, energi, dan pendidikan sebagai prasyarat utama kemandirian sejati.

Ibarat Punya Warung Sendiri

Bayangkan kita punya warung kopi. Kita melayani siapa saja yang datang dari kampung sebelah, dari kota, dari mana pun semua kita layani dengan baik. Tapi begitu ada pihak yang mencoba mengatur-atur harga jualan kita atau memaksa kita hanya boleh melayani pelanggan tertentu, tentu kita akan menolak dengan tegas.

Begitu juga posisi Indonesia hari ini: menjadi "pemilik warung" yang berdaulat, terbuka untuk berdagang dengan siapa saja, tapi tidak mau diatur-atur oleh siapa pun.

Indonesia Bukan Pion Catur

Ini bukan soal ambisi ke luar negeri semata, tapi soal harga diri bangsa yang mewakili lebih dari 280 juta rakyat Indonesia. Sikap ini menegaskan komitmen atas kemandirian politik luar negeri tanpa tunduk pada tekanan negara mana pun  Indonesia tidak mau lagi dijadikan alat tawar-menawar atau dipaksa memilih kubu oleh kekuatan asing mana pun. Kita bergaul dengan semua negara, dengan satu tujuan: kesejahteraan rakyat kecil di tanah air.

Apresiasi untuk yang Bekerja di Akar Rumput

Di balik keberanian bersikap di forum internasional, ada kerja keras petani dan pekerja lokal yang menjadi fondasi sesungguhnya dari kemandirian bangsa. Ketangguhan merekalah yang membuat sikap tegas di panggung dunia punya arti nyata di lapangan.