GENREPUBLIKA.COM | Setiap tahun, ribuan warga dari salah satu komunitas adat paling teguh memegang tradisi di Indonesia turun gunung menuju pusat kota. Mereka datang bukan untuk menuntut kekayaan finansial maupun kekuasaan, melainkan untuk menyerahkan hasil bumi dan menagih komitmen pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Tradisi Seba Baduy 2026 kembali digelar dengan penuh kekhidmatan. Video singkat tersebut menampilkan lautan masyarakat adat berbalut pakaian khas mereka—dominasi warna hitam, putih, dan ikat kepala biru—yang berbaris membawa hasil panen. Melalui narasi di video tersebut, Pemerintah Provinsi Banten menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada masyarakat adat yang senantiasa melestarikan nilai-nilai kehidupan lokal serta budaya alam secara berkesinambungan.
Lebih dari 1.500 warga adat Baduy Dalam dan Baduy Luar melakukan perjalanan darat yang melelahkan sejauh puluhan kilometer. Tanpa menggunakan kendaraan, mereka berjalan kaki dari Desa Kanekes menuju Rangkasbitung (Kabupaten Lebak) dan berakhir di pusat pemerintahan Provinsi Banten di Kota Serang pada 23 hingga 26 April 2026.
Menagih Janji di Balik Pawai Budaya
Meski Seba Baduy kini telah masuk dalam kalender pariwisata nasional Karisma Event Nusantara (KEN), bagi Suku Kanekes, ritual ini jauh dari sekadar atraksi turis. Mengusung tema sentral "Ngajaga Amanat, Ngarumat Jagat" (Menjaga Amanah, Merawat Semesta), acara pasca-puasa adat Kawalu ini adalah manifesto lingkungan dari suku pedalaman.
Di dalam dunia yang terus berpacu mengejar modernisasi, masyarakat Baduy justru menempatkan diri sebagai garda depan benteng ekologis. Pada malam puncak penyerahan hasil bumi kepada para kepala daerah atau yang mereka sebut sebagai "Bapak Gede", para tetua adat Baduy selalu menyempatkan diri menyampaikan peringatan serius.
Mereka menyoroti kerusakan lingkungan yang mengancam keseimbangan alam. Secara spesifik, perwakilan adat menuntut pemerintah untuk menjaga kelestarian sungai dan daratan, mencegah bencana atau wabah, serta menyertakan pesan moral tajam agar para pemangku kebijakan menjauhi praktik korupsi.
Respons Kebijakan dan Tantangan Modernisasi
Teguran berbasis kearifan lokal ini mulai membuahkan respons institusional. Bupati Lebak, M. Hasbi Asyidiki Jayabaya, merefleksikan bahwa tradisi Seba adalah "cermin besar" untuk mengevaluasi apakah manusia sudah cukup menjaga bumi atau justru perlahan melumatnya. Beliau juga menanggapi serius keluhan para tetua adat tentang kerusakan di 53 bukit dan gunung, serta berjanji akan melakukan inventarisasi dan memfokuskan restorasi di setidaknya 32 titik yang terindikasi mengalami degradasi lingkungan.
Selain itu, perlindungan atas tanah ulayat atau lahan komunal masyarakat Baduy dari klaim pihak luar semakin diperkuat melalui regulasi daerah. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten turut mengapresiasi dan menjadikan pesan moral Seba Baduy sebagai pendorong utama bagi kesadaran kolektif terhadap isu lingkungan hidup.
Pada akhirnya, Seba Baduy 2026 bukan sekadar rutinitas atau tontonan seremonial. Di tengah pusaran krisis lingkungan global, kehadiran fisik ribuan warga Baduy di pusat pemerintahan modern menjadi ironi dan alarm sekaligus: bahwa kemajuan sebuah wilayah tidak boleh meminggirkan mandat leluhur untuk hidup selaras dengan alam.
